Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), crowdfunding Indonesia dikelompokkan dalam empat jenis, yaitu; quity based crowdfunding (Crowdfunding berbasis permodalan/kepemilikan saham), lending based crowdfunding (crowdfunfing berbasis kredit/utang piutang), reward based crowdfunding (crowdfunding berbasis hadiah), dan donation based crowdfunding (berbasis donasi). Adapun penjelasan masing-masing jenis crowdfunding tersebut adalah sebagai berikut:

   1. Crowdfunding Basis Pinjaman (Consumer Lending-based)

Crowdfunding berbasis pinjaman sangatlah mirip dengan mekanisme pinjaman pada umumnya, dimana individu dapat meminjam dana kepada suatu proyek dengan ekspektasi pengembalian. Crowdfunding basis pinjaman dikenal juga dengan istilah Crowdlending, Peer-topeer (P2P) atau pinjaman sosial. Pemberi pinjaman mendapatkan pembayaran bunga dengan imbalan pinjaman mereka. Jumlah pembayaran bunga bervariasi tergantung pada risiko yang dihadapi oleh inisiator.

Crowdfunding berbasis pinjaman berfokus pada usaha-usaha kecil yang membutuhkan modal untuk kelangsungan usahanya. Terdapat beberapa bentuk crowdfunding dengan basis pinjaman, yaitu sebagai berikut:

Perjanjian Pinjaman Tradisional (Traditional Lending Agreement). Model crowdfunding jenis ini model paling tradisional, dimana terdapat termin standar dan tingkat bunga. Mekanisme crowdfunding ini dapat dikatakan sangat mirip dengan mekanisme institusi keuangan dimana perusahaan meminjamkan sejumlah uang (bernominal kecil) dengan tingkat bunga yang cukup tinggi bagi debiturnya.

Forgivable Loan. Pada model pinjaman jenis ini, dalam penagihan uangnya kembali memiliki beberapa ketentuan, yaitu lender (pemberi pinjaman) harus memenuhi salah satu dari dua syarat, yaitu: a) jika dan ketika proyek mulai berjalan dan menghasilkan pendapatan atau b) jika dan ketika proyek mulai memperoleh laba.

Pre-Sales (Pre-Selling atau Pre-Ordering). Dalam model ini, pencari dana meminta dana sebagai modal untuk memproduksi sesuatu. Dana dikembalikan kepada donor dalam bentuk produk akhir yang dijanjikan sesuai dengan nominal dana yang diberikan. Umumnya, semakin besar dana yang diberikan, maka semakin banyak atau semakin berkualitas produk akhir yang diberikan.

   2. Crowdfunding Basis Donasi (Donation-based)

Crowdfunding basis donasi adalah jenis crowdfunding yang didasari oleh donasi, filantropi, dan sponsorship dimana goals utamanya adalah mencari sumbangan. Jenis ini sering disebut sebagai micropatronage. Dalam crowdfunding jenis ini, para donatur berkontribusi dalam suatu proyek tanpa memiliki ekspektasi pengembalian dana yang telah dikontribusikannya. Portal crowdfunding yang menjalankan model donasi umumnya memberikan penghargaan (reward), hadiah (gift), atau cinderamata (token) untuk menstimulasi individu agar menyumbang pada suatu proyek. Dengan demikian, tidak jarang pengertiannya tumpang-tindih (overlapping) dengan crowdfunding basis hadiah (reward-based).

   3. Crowdfunding Basis Hadiah (Reward-based)

Jenis crowdfunding basis hadiah sering dioperasikan bersamaan dengan crowdfunding basis donasi. Pada jenis ini, jumlah kontribusi yang akan diberikan individu telah dipaketkan sesuai dengan hadiah yang akan diberikan. Hadiah dapat berupa pencantuman nama pada kredit proyek, penamaan (acknowledgements) pada merchandise, kesempatan untuk bertemu dengan creator proyek, undangan untuk menghadiri acara khusus yang berkaitan dengan proyek, dan sebagainya. Pemberian hadiah ini bervariasi dan umumnya semakin besar sumbangan yang diberikan, semakin banyak atau semakin berkualitas hadiah yang diberikan. Contoh crowdfunding pada basis hadiah ini adalah indogiving. Indogiving merupakan marketplace yang dimana terjadinya transaksi untuk tujuan yang baik. Platform ini melakukan pendekatan kepada donatur yang telah ikut berperan aktif membantu mendonasikan dananya untuk suatu proyek.

   4. Crowdfunding Basis Ekuitas (Equity-based)

Dikenal juga dengan istilah Crowdinvesting, dimana kegiatan crowdfunding basis ekuitas seperti investasi pada umunya dimana seseorang akan mendapatkan hak kepemilikan pada sebuah perusahaan yang merupakan sebuah bentuk imbalan atas dana yang diberikan. Meskipun memiliki market-share yang paling kecil, baik dari segi dana terkumpul maupun penetrasi pasarnya. Terdapat dua subkategori standar dari equity crowdfunding, yaitu:

Model Investasi Surat Berharga (Securities Investment Model). Yaitu saham perusahaan dibeli oleh seorang investor sehingga kontributor memiliki hak atas kepemilikan dari perusahaan atau dari sebuah proyek tersebut.

Model Bagi Hasil (Profit or Revenue-sharing Model). Adanya perbedaan dari kategori yang sebelumnya, yaitu pada kategori ini kontributor mendapatkan bagi hasil atau (share) dari revenue atau keuntungan dari sebuah proyek dan bukan saham pada perusahaan persangkutan. Kategori ini sering disebut dengan istilah Collective Investment Scheme atau Skema Investasi Kolektif.

Kelebihan dan Kekurangan Crowdfunding

Menurut Valanciene dan Jegeleviciute (2013), crowdfunding sebagai kegiatan urun dana atau penggalangan dana yang dilakukan melalui media internet memiliki kelebihan maupun kekurangan, yaitu:

Kelebihan Crowdfunding

  • Crowdfunding sebagai tempat pengambilan keputusan bagi donatur yang berkeinginan ikut serta mengambil bagian di suatu proyek yang sedang terjadi.
  • Memperoleh penambahan modal dari platform crowdfunding sangat mudah.
  • Crowdfunding memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Kekurangan Crowdfunding

  • Pengusaha yang mencari modal melewati crowdfunding seharusnya mempertimbangkan tantangan administrasi dan akuntansi yang akan mereka hadapi.
  • Risiko tercurinya inspirasi oleh investor yang turut membantu dalam mendanai perusahaan, sebab bagi pemilik proyek sepatutnya memiliki inspirasi yang menarik supaya mudah untuk menarik pemodal.
  • Risiko terhadap penipuan (fraud) yang akan membuat rendahnya kepercayaan donatur terhadap platform crowdfunding tersebut.

By sijuara